SMAN 1 Kintamani melaksanakan Bedah Kurikulum Prototipe
- Senin, 31 Januari 2022
- kurikulum
- 0 komentar



Bertempat di Lab.Kima, Jumat, 28 Januari 2022, dilaksanakan kegiatan bedah kurikulum prototipe. Kegiatan ini dilakukan sebagai persiapan awal dalam rangka menyambut perubahan kurikulum yang direncanakan oleh pemerintah melalui kementrian pendidikan, kenudayaan, ristek dan teknologi.
Kegiatan ini (bedah kurikulum prototipe, red) menghadirkan narasumber tunggal, pengawas pembina SMAN 1 Kintamani, I Wayan Darsana, M.Pd. Pada kesempatan ini, dipaparkan tentang stuktur kurikulum prototipe, gambaran umum tentan standar proses, isi, dan evaluasi yang terkandung dalam kurikulum baru ini. Lebih lanjut, I Wayan Darsana, Menyatakan bahwa penerapan kurikulum ini oleh pemerintah sebagai upaya untuk pemulihan pembelajaran masa pandemi. Selain itu, melalui implementasi kurikulum yang akan dilakukan ini diharapkan dapat mendorong peserta didik dalam belajar lebih maksimal sesuai dengan jurusannya. Kurikulum prototipe merupakan salah satu alternatif dari upaya sistemik untuk mengatasi learning lost yang selama pandemi ini terjadi.
Sementara itu, Kepala SMAN 1 Kintamani, I Ketut Ada, S. Pd, dalam memberikan tanggapannya menyatakan bahwa SMAN 1 Kintamani siap menyambut program pemerintah ini dan siap melaksanakan kurikulum prototipe. Hal ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan belajar murid yang selama ini memang mengalami kendala akibat pandemi. Oleh karena itu, dengan adanya kurikulum baru ini, I Ketut Ada, berharap pihaknya mempersiapkan diri baik dari sisi kesiapan belajar, kesiapan pendukung, maupun secara moral, akan berupaya untuk mendukung hal ini untuk kepentingan pendidikan yang lebih baik. Kegiatan bedah kurikulum ini pun sesungguhnya merupakan persiapan lebih awal untuk mengenal kurikulum prototipe itu sendiri.
Tujuh Arah Penerapan Kurikulum Prototipe
Semester 2 tahun ajaran ini ada banyak kesibukan di sekolah. Guru mulai melakukan PTM dan mulai mengamati jalannya rencana implementasi kurikulum baru. Kurikulum prototipe akan secara penuh diterapkan di 2025. Pada bulan Februari 2022 ini Kementrian sudah melounching kurikulum prototipe. Jika sekolah tertarik untuk menerapkan akan dicek kemampuannya melalui serangkaian self assessment. Sebagai tenaga pengajar/guru yang menjadi praktisi di kelas selayaknya mengetahui akan kemana arah kurikulum prototipe ini.
Pertama, guru diposisikan sebagai pemimpin pembelajar. Sebuah istilah unik. Posisi guru tidak lagi menjadi sosok yang kerjanya mengeluh soal beratnya administrasi. Guru menjadi sosok yg 'haus' mencari ragam tipe penugasan yg bermakna bagi anak didiknya. Guru paham penugasan apa yg menarik dan berorientasi masa depan. Pergulatan guru dalam merencanakan pembelajaran adalah bagaimana menghadirkan skenario yang terbaik agar murid mendapatkan manfaat.
Kedua, sekolah akan mempunyai kurikulumnya sendiri. Versi kurikulum dari kementrian selama ini adalah standar minimum. Sekolah yang efektif meminta guru-gurunya kerja bersama merancang sendiri kurikulumnya. Menambahkan muatan sesuai dengan situasi lalu didokumentasikan. Dokumen ini lah yang kemudian menjadi acuan bagi guru guru dalam mengajar dan rutin tiap ditinjau tiap dua tahun. Sekolah juga bisa membawa kearifan lokal daerahnya masuk dalam kurikulum. Misalnya sekolah yang terletak didaerah rawan bencana bisa menyelipkan muatan materi sadar bencana bagi siswanya. Dalam melakukan penentuan ini sekolah bisa melibatkan pemangku kepentingan misalnya yayasan, komite sekolah dan masyarakat. Jika ini terjadi maka guru akan mendapatkan dukungan dalam pelaksanaannya.
Ketiga, karakter siswa diintegrasikan dalam pembelajaran. Profil pelajar Pancasila dihadirkan sebagai masukan bagi sekolah untuk diajarkan layaknya matpel. Sebuah cara terbaik dlm memberikan masukan kepada sekolah dalam memilih karakter apa yang akan diterapkan dalam proses pembelajaran agar sisi afektif siswa menjadi terasah. Detail dari karakter ini diintegrasikan dalam pembelajaran. Dijadikan bahasa sehari-hari guru dalam berkomunikasi, mendidik dan memberikan umpan balik. Karakter ini pun tertera diraport dan diberikan narasi bagaimana siswa menjalaninya di sekolah. Butir butir karakter ini pun terpajang di sekolah membuat guru dan siswa selalu diingatkan agar menjadi orang yang melaksanakan.
Keempat, sekolah melakukan perubahan orientasi dari penyampaian konten (kejar target) menuju kepada pemahaman dan penguasaan kompetensi. Sekolah aktifkan MGMP level sekolah yg merekomendasikan materi esensial untuk digunakan. Sebagai hasilnya sekolah akan mempunyai dokumen kurikulum sendiri (point 2).
Kelima, guru diminta melakukan usaha penyesuaian dalam hal konteks pengajaran yang diberikan. Kepada siapa (target) pembelajaran betul-betul menjadi pertimbangan. Istilah yang digunakan dalam kurikulum ini adalah 'teaching at the right level'. Usaha yg mudah jika point 4 sdh dilakukan. Dokumen kurikulum yang komprehensif adalah dokumen yang menyampaikan tingkatan umur dan bersandar pada pemahaman yang siswa miliki sebelumnya.
Keenam, sekolah serius dan fokus pada penyusunan standar literasi & numerasi di level internal sekolah. Selain sekolah sibuk hadirkan pembelajaran yg bermakna lewat metode/strategi/model/pendekatan/teknik yg beragam. Sekolah menggiring dahulu guru-gurunya kerja bersama dalam 'membungkus' target literasi dan numerasi di level satu sekolah. Dikarenakan jika sekolah hanya fokus pada target penguasaan materi tanpa mendirikan fondasi lewat numerasi dan literasi maka guru akan menemui kesalahan yang terus berulang karena ada pondasi yang lemah dan tidak tergarap.
Ketujuh, sekolah dengan mudah menerapkan (PBL) 'project based learning'. Alasan terbesar sekolah selama ini sulit terapkan PBL karena materi yang ada masih dalam bongkahan besar yang sulit guru integrasikan dengan matpel lain. PBL bisa berhasil jika guru sudah selesai dengn proses menentukan materi esensial dari mata pelajarannya. (point 4)
Tujuh hal tersebut, jika sudah dilaksanakan tentunya akan melancarkan niat sekolah jika ingin terapkan Kurikulum prototipe ini. Namun, jika belum semua diterapkan tidak menjadi soal. Akan ada pembimbingan bagi sekolah yg akan menerapkan. Mari beradaptasi terhadap perubahan. "Bukan yang terkuat yang bertahan, melainkan mereka yang paling adaptif menghadapi perubahan.